Sejuta Kisah dari Lereng Merapi

:::kumpulan kisah berdasar fakta yang saya lihat, dengar, dan rasakan.. saya tau cerita tanpa gambar adalah HOAAAAAKKzzz dan saya mohon maaf yang sebesar2nya karena saya sama sekali tak terpikirkan untuk mengabadikan apa yang kami lihat..:::

Setelah sebelumnya menyusuri zona merah di lereng selatan, malam mingguan dengan Hargo Merapi, dan juga muter2 lereng barat, saya sempet beberapa hari konsen ujian…
Sampai pada Jumat dini hari Merapi membuat Mbah Rono mengubah zona aman dari 15km jadi 20km..
Temen2 KMKath MIPA kemudian merealisasikan sebuah rencana membentuk posko koordinasi…
Jumat sore kami berkumpul di basecamp (rumah Lina)
Berhubung populasi agak banyak, kami pun dibagi menjadi 2 tim…
Tim 1 ke posko SaDhar Paingan dan tim 2 ke Margoagung, Seyegan, Sleman..
Kebetulan saya masuk ke Tim 1 bersama Mas Dimz, Mas Tomz, Pau2, Teot, Adek, Mas Tyo, Mbak Eka, Unggul, Mas Embek, Mbak Eme…

Jam 8 kami berangkat dari Basecamp menuju SaDhar Paingan..
Di sana kami tak mendapat pekerjaan karena relawan yang ada di sana udah mencukupi..
Tapi Tuhan punya rencana lain
Ada koordinator posko dari Klaten (Mas Lilik) datang.. Niat awal untuk meminta bantuan logistik, tetapi kemudian menawarkan kepada kami untuk menjadi relawan di daerah Karangnongko, Klaten..
Tanpa babibu kami langsung menyatakan kesediaan kami..
Melihat personil kami ada 5 orang cewek, Mas Lilik agak ragu dan bilang “Ini kami membutuhkan relawan yang siap untuk evakuasi sewaktu2.. Jadi gimana buat yang cewek2??? Kalau misal dirasa gak siap, gak ikut juga gak papa kok”
Mas Dimz (kepala suku Tim 1) menjawab ” Wah lha iki ming chasing e tok mas sek wedok… Asline lanang kabeh… wkwkkwkwk”
:: Dalam hatiku, “waakkk… asem ik” :::
Jam 11 kami berangkat menuju Karangnongko… hal pertama yang dilakukan pas udah sampe adlah cek posisi dengan GPS dan hasilnya… taraaaaaaaaaaaaaaa….. 17 koma sekian kilometer… huft… jadi deg2an..
Pagi pun tiba.. Saatnya kerja..🙂
Saat pembagian tugas kerja, kami mendapat jatah pendampingan anak2..
Bingung juga awalnya untuk mengajak adek2 kecil yang ada di tempat pengungsian itu buat maen2 di lapangan, tapi karena udah kepepet yo hajar bleh…
Tak lama kemudian terkumpul sekitar 50 anak di lapangan…
::Trus mau di apakan ni??? Rencana yang udah dibuat malam sebelumnya gak bisa diterapkan cz bingung menghadapi banyak anak… hohohoh::
Awalnya kami seneng2 bermain bersama anak2 itu di lapangan sampe tiba2 terdengar suara “Gluduk gluduk” dan terlihat awan panas menyembul dari gunung yang tampak jelas di depan mata…
Deg2an dan was2 melihat awan panas itu terus membesar, tapi berhubung kami sedang berada di antara anak2 kecil yang masih ceria untuk bermain ya anggap saja kami tidak melihat awan itu dan tetep cengar cengir bermain dengan anak2.. hohoho
Jam 10 kami pulang.. Melihat kondisi, sebenarnya saya masih pengen di sana, tapi katanya malam nanti kami udah dapet job lagi buat jaga posko kentungan..

Jam 6 kami udah kumpul lagi di basecamp..
Jam 8 berangkat ke Kentungan.. Sampe disana lagi2 udah banyak relawan yang datang..
Kosen ke Margoangung aja yuks…
Di Kentungan kami cuma mengambil logistik untuk kebutuhan posko Margoangung..
Malemnya, Mas Dimz, Tari n Ko Gery nganter logistik ke sana..
Trus yang laen ke mana???
:::bubu di basecamp persiapan buat besok paginya….🙂 :::

besoknya pagi2 saya dan pau2 sudah berburu logistik di Kentungan.. Dapet banyak dan lumayan untuk memenuhi kebutuhan 1000 orang di Margoagung..
Jam 10an kami berangkat menuju Balai desa Margoagung.. Breafing dulu…
Awalnya dapet jatah pendampingan anak bersama mbak eme, ria, dan nibo… Sumprit males banget rasanya harus bermain2 dengan anak2..
Tapi ya apa daya… Harus tetep dilaksanakan..
Kegiatan pertama adalah menggambar dan mewarnai… Yang menarik adalah hampir semua anak yang menggambar semuanya menggambar dua gunung tidak dengan matahari di tengahnya tetapi dua gunung dengan awan panasnya… Rasa malas yang tadinya menyelimuti berangsur hilang… Diganti rasa sayang kepada anak2 yang sepertinya haus kasih sayang…
Setelah itu saya memulai hidup di pengungsian…
2 hari pertama cukup ironi.. ada banyak baju di depan mata tapi saya dan teman2 kebingungan mencari baju ganti (gak tega klo mau ambil jatah pengungsi jadi akhirnya saya gak mandi dan gak ganti selama 2 hari.. hohoho)
hari ketiga saya sempatkan untuk pulang ke rumah.. walau cuma 30 menit di rumah dan saya habiskan di kamar mandi untuk mandi sepuasnya, saya bercerita banyak hal kepada orang tua saya tentang kondisi saya di pengungsian..

Setiap harinya di pengungsian kegiatan utama kami hanyalah mencari pasokan barang dan mendistribusikannya lagi..
Tapi ada juga pekerjaan sambilannya… Nganter anak sekolah, ngasih vitamin, momong (mengasuh) anak,dll

Kisah yang gak akan pernah terlupakan adalah tragedi Pop Mie
Hanya gara2 sebuah/segelas/sebungkus POP MIE, kami mendapat pelajaran yang paling berharga dari Pak Kepiting Jalannya Miring:
1. Para pengungsi itu kondisi kejiwaanya labil… Mereka yang biasanya serba kecukupan di rumahnya masing2 tiba2 harus kehilangan segalanya dan terpaksa menempati tempat yang kurang layak jadi mereka mudah untuk emosi saat kebutuhan mereka tidak terpenuhi.. Hal yang bisa dilakukan oleh para relawan hanyalah bersabar.. hohoh
2. Hati2 terhadap penipuan yang berkedok persaudaraan…
Waktu itu pak kepiting mengaku bahwa anak yang digendongnya adalah anaknya yang berasal dari srumbung padahal usut punya usut anak tersebut bernama nindya anak dari bapak sunaryo asal Turi… Dan pak kepiting itu sendiri ternyata adalah warga salah satu dusun yang ada di desa tersebut..
3. Tidak semua kebutuhan kita terpenuhi tetapi yakinlah bahwa ada banyak orang di luar sana yang memperhatikan dan selalu mengusahakannya bagi kita… Jadi tetep perlu waktu sampai kebutuhan kita terpenuhi..

Hidup satu minggu di pengungsian juga membuat saya jadi mengerti mengapa mereka masih suka pulang kerumah saat siang hari..
:::karena mereka bosen di pengungsian yang serba dilayani dan gak ada kerjaan di sana:::

masih banyak yang ada di memory saya tapi saya bingung bagaimana cara melukiskannya dengan kata2…
yang jelas saya berterimakasih pada Papi JC karena di balik bencana yang terjadi kami masih dieri kesempatan tuk berbagi dan bekerja dengan CINTA…
makasih juga buat Keluargaku yang udah 3 tahun ini memberiku banyak hal termasuk segala hal selama kita bersama di pengungsian… luph u guys…
makasih juga buat semuanya yang udah ikut bergabung di posko Margoagung.. Bwt mbak sari, mas arif, mbak tari, mas ade, mbak ika, mas bowo, dll… Maaf jika ada kata atau tingkah kami yang kurang berkenan… Karena inilah kami dengan segala tingkah konyol kami.. hohohooho

    • nunuk
    • November 15th, 2010

    suka aku ceritamu mbak…
    kisah tragis tapi tetap menyenangkan dan bermakna hingga bisa jadi cerita yg ingin d ceritakan kelak..
    kisah yang berawal dr merapi..
    aku suka itu..
    d t4 q juga gtu..
    karna kosan q jg jd t4 pengungsian..
    dmn isinya anak2 smua..

    • shary_cipruet
    • November 16th, 2010

    keren mbak jempol dah ….. semingu di margoagung memberiku byak penglaman memaknai kehidupan..n arti kebersamaan………….berbagi sesama dan teman…. nambah temen juga….. jempol buat temen2 KMKATH, temen2 udah nerima aq ma tary dg baik kyak udah kenal lama, gayeng, gokil, pokoke mantaf,….thxz all……..semoga merapi kembali tenang n para pengungsi diberikan kekuatan tuk menjalani hidup yang baru lagi aminnnn

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: